Senin, 09 April 2012

Kali ini ...

Barusan gua selesai nonton film "We Bought a Zoo" yang dibintangi sama Matt Damon yang berperan sebagai Benjamin Mee. Film ini tulisannya "Based on a true story", semoga bener adanya.

cover film "We Bought a Zoo"


















Ini salah satu film drama/comedy/family mungkin ya. Soalnya, ada scene-scene lucu juga di film ini. Yaa, beruntung gua nonton sendirian. Berhubung kakak-kakak gua lagi pada di luar. Terutama bokap gua, drama apapun gak doyan. Untung dia udah molor.

Yaa, Banyak scene yang ngena banget di film ini. Terutama sama kehidupan pribadi gua. Dimana yang namanya usaha tiada henti akan selalu menghasilkan sesuatu.

Diantara beberapa scene yang menurut gua menarik, ada salah satu yang paling menarik. Yaitu scene dimana "Keberanian 20 detik" ...

Maksudnya apa ?

Yaa, setelah gua nonton film ini, gua cukup bersyukur. Gua udah melaksanakan keberanian singkat itu sebelum-sebelumnya. Dan gua baru sadar setelah nonton film ini.

Dalam scene nya, seorang anak bernama Dylan yang sedang berbincang dengan bokapnya yang bernama Benjamin ... Benjamin tau kalo si Dylan ini lagi polinlov sama yang namanya Lily, cuman Dylan nya gak mau ngomong. Malu katanya ...

Tapi Benjamin berkata, "Terkadang kita butuh 20 detik keberanian untuk mengatakan sesuatu. Malu memang, tapi toh malu yang kita rasakan hanya 20 detik, karena setelah itu hasilnya akan menyenangkan. Sesuatu yang besar" ...

Ya, banyak emang yang udah gua lakukan dengan keberanian beberapa detik itu.

Yang pertama, angkat tangan saat ditanya guru. Itu saat gua kelas VII. Pelajaran biologi yang diajar sama Bu Indri Hastuti. Tentang pengertian fotosintesis dan proses dkk nya. Waktu itu gak ada yang berani ngangkat tangan. Entah gak berani, entah emang pada gak tau. Maka dengan gemeteran dan penuh rasa malu (apalagi baju SMP gua masih anget-angetnya), gua angkat tangan. Loh kok disuruh ngomong di depan, tentang pengertian fotosintesis dan prosesnya. Laaah,,, dan gua maju sampe terkencing-kencing. Kacamata gua benerin berkali-kali. Keringet dingin. Nahan pipis. Nahan berak. Gigit bibir.

Gua ngomong, dan salah saat gua menjelaskan tentang proses. Yak, apa yang terjadi, gua dapet tambahan nilai. Bukan bener atau salahnya, tapi keberanian gua untuk ngacung dan maju. Kata Bu Indri sih gitu ya.

Banyak emang, dan setelah kejadian itu, gua berprinsip keberanian dan kejujuran. Meski ujung-ujungnya gua ogah ngacung karena emang takut salah dan akan menimbulkan rasa malu. Kalo udah malu, takutnya depresi dan bunuh diri keselek jakun sendiri. Kan bahaya.

Dan inilah salah satu yang gua lakukan dan gua rasakan pada tanggal 10 Juli 2011 ... Dimana gua dag-dig-dug dan KATARAK tingkat Afghan (Dibaca sadis). Salah satu peristiwa gua yang bersejaraaahhh ~~~~

Waktu itu, 10 Juli 2011. Di depan tempat sampah, gua sama seorang gadis lagi diem-dieman. Muka gua kayak kepiting rebus yang marah-marah dan lagi kena darah tinggi. Kaki gua gemeteran kayak semut laper kepanasan. Mulut gua kaku kayak ulet sagu di kutub utara dikasih es batu. Semua serba kacau. Keringet gua deres. Muka gua gak tau bentuknya. Mungkin kayak raket badminton yang udah ambles dilindes truck kali ya.

Sumpah, demi apapun. Gua bener-bener dihajar ANDILAU. ANtara DIlema dan gaLAU.

Saat itu, gua diem-dieman. Bingung mau ngomong apalagi. Sementara gadis di depan gua ini harus segera pulang. Begitu juga dengan gua. Salah tingkah.

Jujur aja, gua mau nembak sejak gua kelas III. Cuma sayangnya gua baru ketemu pas kelas VIII. Dan itulah cinta pertama gua. Pernah waktu itu gua jatuh cintrong pas kelas VII, tapi rasanya itu bukan jatuh cintrong. Entahlah, gua berasa kurang srek aja.

Cinta pertama gua, oleh seorang gadis (gua bukan pedofil apalagi homo). Dia baik, cantik, cerdas, pintar, terampil, musisi, dan banyak lagi.

Lamaaa, gua pendem rasa ini sampe kantong gua udah gak kuat nahan. Pengen cepet-cepet mbrojol aja gitu.

Sampe akhirnya, gua nembak dia saat bertepatan dengan dimulainya LDR gua. Yaitu, tanggal 10 Juli 2011.

Yak, gua kumpulkan keberanian gua di mulut. Sampe di mulut, gua bagi separo buat mulut, separo buat hati. Otak gak kebagian. Soalnya ini berhubungan dengan cinta. "Cinta ini, kadang-kadang tak ada logika", kata pikiran alam bawah sadar gua sambil clubbing. 

Dalam waktu kurang lebih 20 detik itulah, gua menyatakan rasa cinta gua. Gua tembak dia. DOR. Gua nunduk, takut muka gua tiba-tiba berubah jadi serigala karena di matanya itu ada bulan purnama (eaaaa ~~) ...

Gua tertunduk setelah gua menyatakannya, mainin jari jempol tangan gua. Jempol kaki gua dibalik sepatu sport yang gua pake juga ikut berontak, gak mau kalah.

Diam, beberapa detik berlalu. Rasa malu itu hapuslah sudah. 20 detik yang berharga. Ditolak atau diterima, urusan belakangan. Yang penting hari ini bisa diinget sama dia. Dimana seorang Lyra Aurora menyatakan cintanya pada seorang gadis.

Sempet pikiran gua bertanya-tanya. Mungkin gadis ini berpikiran "Kenapa Lyra mau sama aku ?" ... Maka pikiran gua yang lain menjawab "Why not ?" (scene ini juga ada di film "We Bought a Zoo") ... Gua gak akan menyesal udah nembak seorang gadis kayak dia.

Lalu hati gua bergejolak ketika mendengar suara lirihnya, bertanya kembali, namun dengan isyarat menerima. Maka gua bersyukur banget.

Dan itulah kisah gua selama 20 detik yang bermakna itu. Sampe sekarang pun, gua masih LDR sama dia.

Gua sama sekali gak menyesal dengan rasa malu yang gua alami selama 20 detik. Tanpa 20 detik, umur gua gak akan pernah jadi enam belas kayak sekarang.

Thanks, God. You gave me courage at that time.

Maka pada hari itu, gua menyimpulkan... Keberanian yang didasari kebenaran, adalah suatu kemenangan.

0 Responses to - DUA PULUH DETIK -: